starlink

Ketua APJII JABAR Beri Komentar Soal Starlink

Bisnis telekomunikasi di Indonesia segera memasuki babak baru. Starlink perusahaan telekomunikasi milik Elon musk dikabarkan akan menjelajah angkasa Indonesia mengingat Starlink adalah raksasa telekomunikasi, maka kedatangannya ibarat batu besar yang jatuh ke air muncul riak dan gelombang yang menggoyang bisnis telekomunikasi dalam negeri. Wajar kalau kemudian ada yang khawatir meskipun tidak sedikit juga ada yang menyambut baik.

Sebetulnya Apa yang akan terjadi ketika Starlink beroperasi di wilayah Indonesia? Benarkah ISP dalam negeri terancam? Bagaimana seharusnya mereka dan juga pemerintah bersikap berkompetisi atau memproteksi mana yang elok untuk kita pilih? Yuk kita cari tahu

Di bagian pertama kita telaah inovasi apa yang telah dihasilkan oleh Starlink dan di bagian kedua kita pahami pro kontra atas kehadiran Starlink di Indonesia di bagian ketiga kita kaji pilihan Sikap apa yang lebih baik diambil untuk menghadapi kehadiran Starlink, lanjut ke bagian keempat akhirnya di situ kita akan tahu sikap yang diambil oleh pemerintah di bagian akhir kita diingatkan tentang beberapa hal penting sebagai konsekuensi menerima Starlink.

Pada tahun 2015 Elon musk dengan Starlink-nya mengejutkan dunia mereka merevolusi tata kelola telekomunikasi internet. Memang apa sih yang sudah mereka perbuat selama ini layanan internet termasuk perluasan jaringannya dilakukan para ISP? dengan cara membangun jaringan kabel serat optik dan juga stasiun pemancar atau base transfer station atau BTS di daratan atau bisa juga manfaatkan satelit di orbit yang terjauh.

Elon musk memilih untuk melakukannya dengan cara yang berbeda dia bangun Armada satelit di orbit yang rendah jaraknya itu cuman 550 km dari bumi karena posisi satelit Starlink itu lebih dekat ke bumi maka pengiriman dan penerimaan data bisa jadi lebih cepat saling mengklaim kecepatan internet mereka mencapai 350 mbps itu luar biasa banget, walaupun ada sumber lain yang menyebutkan angka yang sedikit lebih konservatif yaitu 160 mbps, tetap aja itu kecepatan jauh di atas rata-rata kecepatan layanan data seluler di Indonesia yang hanya 21 mbps

Selain itu starlink juga mampu melayani orang-orang yang berada di berbagai pojokan bumi. Orang-orang itu bisa berselancar di dunia maya sama cepatnya dengan mereka yang dilayani oleh jaringan kabel serat optik di kota-kota besar,jadi Starlink bisa memberi akses internet yang cepat dan merata termasuk di daerah-daerah yang sulit dijangkau layanan internet konvensional itulah langkah revolusioner Starlink yang telah mendisrupsi model layanan telekomunikasi Global.

Namun inovasi Starlink bukan tanpa cacat Timotius CEO my Republic mengingatkan beberapa kelemahannya dia mengatakan layanan internet satelit memiliki keterbatasan yang bisa mempengaruhi performa layanan seperti stabilitasnya kecepatannya sampai latensi yang rendah padahal aspek-aspek itulah yang dibutuhkan para pengguna internet. Menariknya pemerintah Indonesia rupanya lebih melihat kelebihan dari Starlink, bahkan pemerintah sudah menjajaki kerja sama dengan Starlink. Lalu apa sikap para ISP di Indonesia terhadap rencana ini?

Kabarnya, baru-baru ini Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin bertemu Elon Musk,  pertemuan itu adalah Usaha pemerintah Indonesia menjajaki kerja sama dengan Starlink , kenapa ya Menkes tertarik dengan layanan Starlink? ternyata Kementerian Kesehatan memerlukan layanan Starlink untuk mendukung infrastruktur internet di ribuan Puskesmas yang berada di wilayah 3t atau Tertinggal terdepan dan terluar akses internet di wilayah 3t masih terbatas dan menghambat upaya memeratakan pelayanan kesehatan ke seluruh pelosok Negeri. Maka menurut Budi salah satu solusinya pakai Starlink, karena banyak puskesmas berada di daerah terpencil ternyata negosiasi pemerintah dengan Starlink sudah selesai hal itu diungkapkan menteri koordinator bidang kemaritiman dan investasi Luhut binsar Panjaitan, ia berharap kedua belah pihak akan segera menandatangani perjanjian kerjasama sekaligus berharap Oktober mendatang elon musk datang ke Indonesia.

Sebetulnya pemerintah sudah berusaha mengatasi masalah konektivitas di wilayah 3t dengan meluncurkan satelit Satria, namun satelit ini masih dalam perjalanan menuju orbitnya yang direncanakan Berada di posisi 146 derajat bujur timur tepat di atas Papua. Dengan adanya dua bintang di langit Indonesia maka konektivitas di seluruh penjuru Negeri akan bisa semakin optimal. Starlink mengklaim masyarakat Indonesia antusias menyambut mereka situs Starlink.com mencatat sudah ada 13.901 warga Indonesia yang berminat terhadap layanan Starlink ,bahkan 415 di antaranya sudah membayar deposit sebesar 100 USD.

Indonesia akan menyusul negara Asia lain yang menjalin kerjasama dengan Starlink, seperti Malaysia Filipina dan juga Jepang. Sedangkan Starlink sendiri sudah masuk ke 80% wilayah Eropa dan juga Australia dan 70% wilayah Amerika. Beberapa pebisnis telekomunikasi menyambut kehadiran Starlink diantaranya Steve Saerang svp Head of corporate communication PT Indosat Tbk dia optimis kedatangan Starlink akan membuat kompetisi semakin ketat , baginya Itu gejala positif, karena bertambahnya pilihan layanan bagi konsumen akan membuat provider berlomba-lomba untuk berinovasi dan meningkatkan kualitasnya. Steve juga mengatakan dengan semakin banyak provider internet Indonesia menjadi pasar yang sangat potensial untuk dikembangkan.

Sambutan yang sama juga ditunjukkan Timotius Max Sulaiman CEO my Republic, dia mengatakan Starlink bisa membantu memberikan layanan akses internet berkecepatan tinggi. Starlink menjadi alternatif yang sangat baik untuk mengatasi sulitnya konektivitas khususnya di daerah terpencil yang susah dijangkau oleh infrastruktur kabel tradisional. Hal yang sama diungkapkan oleh Ian Joseph Matheus Edward ketua pusat studi kebijakan industri dan regulasi Telekomunikasi Indonesia ITB, menurutnya layanan seperti itu memang sudah dinantikan oleh banyak pihak di era digital saat ini, namun ada juga pemain lokal yang khawatir di antaranya Dian siswarini CEO PT XL Axiata Tbk , menurutnya perlu ada level playing field yang sama antara pemain global dan pemain lokal. Kalau sampai tidak ada, maka potensi ancaman bagi industri telekomunikasi lokal bisa menjadi kenyataan. Dia mengatakan kalau pemain seperti Elon Musk sudah masuk ke sini dan tidak mendapatkan level playing field yang sama Wah kita bisa dibabat habis begitu katanya. Kekhawatiran lain diungkapkan Heru Sutadi direktur eksekutif ICT Institute dalam wawancaranya dengan cnbc Indonesia, Heru khawatir pemain asing akan mendapatkan perlakuan khusus. Kalau itu sampai terjadi maka industri lokal perlu waspada, dia mengatakan kalau mereka diberi karpet merah itu perlu ditakutkan. Heru mengingatkan bahwa ISP lokal dikenai aturan cukup ketat termasuk soal bhp uso atau biaya hak penggunaan, jika Starlink tidak dikenai aturan yang sama maka ada ketidaksetaraan yang bisa mengganggu keseimbangan industri telekomunikasi nasional padahal ISP lokal selama ini telah berjasa, mereka membangun industri Telekomunikasi Indonesia dengan dedikasi dan investasi yang besar.

Jadi bagaimana solusinya? Apakah industri telekomunikasi lokal itu harus diproteksi? atau kita Biarkan aja ikut berkompetisi? selama beberapa dekade industri telekomunikasi di Indonesia dikembangkan oleh perusahaan-perusahaan lokal mereka tanpa henti membangun infrastruktur menggali memasang dan memelihara jutaan kilometer kabel serat mendirikan stasiun pemancar di seluruh Nusantara tentu biaya yang mereka keluarkan tidak sedikit ya begitu juga waktu energi serta konsistensi dalam melayani masyarakat, tetapi ketika kemampuan mereka dibandingkan dengan teknologi tinggi Starlink peranan sejarah seperti itu cenderung akan terabaikan. Kita juga menyadari bahwa telekomunikasi bukan hanya semata-mata objek bisnis.

Telekomunikasi berada di area strategis dan erat kaitannya dengan kepentingan ekonomi pendidikan kesehatan , dan hampir semua aspek kehidupan masyarakat ketika bidang ini dikuasai oleh pemain asing ,maka kedaulatan digital dan juga keamanan cyber kita berisiko untuk terancang. Dengan pertimbangan itu maka wajar ketika muncul opsi memproteksi industri telekomunikasi, Pemerintah bertanggung jawab menjaga industri strategis ini tetap stabil, tetapi memproteksi industri lokal bukan berarti menutup diri dari inovasi dan kompetisi Global, juga bukan berarti menolak investasi asing. Proteksi diperlukan untuk menciptakan medan pertempuran bisnis yang adil dan seimbang, juga menjaga supaya keseimbangan antara kepentingan nasional dan juga kepentingan bisnis bisa tetap terjaga baik. Selain proteksi ada opsi lain yaitu kompetisi , kalau kita bicara sejarah bisnis kita sudah sering ya menemukan fakta bahwa kompetisi sering memacu lahirnya inovasi, tanpa kompetisi para pemain akan cenderung tidak berkreasi dan jalan di tempat, jadi kalau dilihat dari sudut pandang kompetisi maka hadir Starlink di Indonesia adalah angin segar. Persaiangan industri telekomunikasi dalam Negeri akan bertambah ramai, Starlink yang datang dengan dukungan teknologi tinggi akan menjadi alarm bagi ISP-ISP lokal, mereka diingatkan untuk mengaktualisasikan diri mereka dengan meningkatkan pelayanan dan menyesuaikan produk dengan kebutuhan konsumen yang terus berubah sesuai perkembangan zaman.

Sebetulnya Starlink membidik segmen pasar yang berbeda dari segmen yang dibidik oleh ISP lokal, itu terlihat dari tarif langganan starlink yang berkisar antara 2 juta sampai 33 juta per bulannya. Dengan tarif segitu bisa Jadi sebenarnya Starlink lebih memidik kalangan atas atau mereka yang membutuhkan koneksi internet dengan kualitas yang lebih baik di lokasi-lokasi yang sulit dilayani ISP lain , sementara itu sebagian besar ISP lokal menerapkan tarif paket internet yang jauh lebih murah mereka membidik lapisan masyarakat umum termasuk yang berada di segmen menengah ke bawah. Dengan fakta itu artinya kemungkinan Starlink tidak akan sepenuhnya bersaing langsung dengan kebanyakan ISP lokal, maka ada baiknya Starlink tidak dilihat sebagai raksasa yang siap mencaplok pangsa pasar ISP lokal. Anggap aja Starlink adalah pelengkap landscape telekomunikasi di Indonesia, mereka menawarkan alternatif Bagi siapapun yang memerlukan layanan khusus dan siap membayar tarif premiumnya termasuk mereka yang berada di wilayah 3t.

Tampaknya pemerintah Indonesia menyadari semua itu sehingga tidak memilih satu di antara dua opsi tersebut. Pemerintah justru mengambil Jalan Tengah dengan menyadari bahwa kemajuan teknologi seperti yang di bawa Starlink memang tidak bisa  dibendung. Pemerintah punya pengalaman membendung kemajuan teknologi, pengalaman itu terjadi pada awal tahun 2000-an ketika teknologi voice Over internet Protocol atau VoIP populer, pada saat itu awalnya pemerintah menganggap VoIP sebagai ancaman serius bagi perusahaan telco yang akhirnya akan bisa mengurangi pendapatan negara. Memang VoIP itu bisa menghilangkan tarif interkoneksi sehingga biaya komunikasi melalui voip jauh lebih rendah, akhirnya pemerintah bertindak dan bahkan menangkap beberapa penyedia layanan VoIP. Mereka dituduh melakukan praktik ilegal karena mengoperasikan layanan telekomunikasi tanpa izin, belakangan pemerintah sadar bahwa teknologi VoIP tidak bisa dibendung lagi pula masyarakat memerlukan layanan telekomunikasi yang ekonomis dan efisien,  akhirnya pemerintah berubah sikap dan mengizinkan VoIP beroperasi di Indonesia. Persetujuan itu diberikan setelah pemerintah merevisi peraturan dan memberlakukan regulasi yang lebih adaptif , kisah voip menjadi cermin bahwa bersikap resisten terhadap teknologi baru bukan jawaban yang tepat, lebih baik teknologi baru itu diadopsi dengan menerapkan regulasi yang tepat sehingga bermanfaat bagi masyarakat. Begitu juga dengan Starlink yang bisa dilihat sebagai peluang bukan ancaman di era sekarang, kemampuan beradaptasi untuk menerima inovasi baru adalah kunci keberhasilan untuk tetap eksis dan berkembang dalam persaingan Global.

Meskipun begitu melindungi industri lokal tetap harus jadi prioritas, pemahaman itulah yang membuat pemerintah akhirnya mengambil Jalan Tengah Starlink masuk dengan cara dijodohkan dengan PT Telkom pada Juni 2022,  kominfo telah memberikan hak labuh khusus non ge stationary satellite orbit (ngso) Starlink kepada telkomsat, ini langkah bersejarah yang menunjukkan keseriusan Indonesia menerima teknologi baru, untuk itu Telkom telah mendirikan sembilan Stasiun bumi sebagai jembatan akses internet ke Satelit Starlink. Fajrin, direktur bisnis digital Telkom mengatakan, kami berkolaborasi dengan Starlink melalui telkomsat untuk memperkaya cakupan telekomunikasi kita, dia juga mengatakan bahwa kemungkinan telkomsat akan menyewa satelit Starlink untuk memberikan layanan jaringan internet tertutup bagi pelanggan korporat, jadi seperti juga ditegaskan direktur wholesale and International Service telcom Bogi Wicaksono, kehadiran Starlink bukanlah untuk melayani konsumen secara langsung. Starlink digunakan untuk akses internet melalui Operator seluler dan penyedia layanan internet yang ada di Indonesia. Bogi menjelaskan kita berada di tengah dan tidak memonopoli ,kita tidak melayani langsung pelanggan ,ISP lah yang menjualnya jadi Telkom berperan sebagai mediator dan tidak memonopoli layanan tersebut. Dengan demikian kehadiran saling menjadi jembatan antara inovasi Global dengan kepentingan lokal di satu pihak masyarakat bisa menikmati akses internet berkecepatan tinggi.

Di pihak lain industri telekomunikasi lokal tetap terlindungi dan bisa bernafas dengan legal sebab, integrasi Starlink dalam telkomsat menyasar segmen pasar yang berbeda, jadi itulah salah satu cara yang dapat dipakai untuk memacu pertumbuhan dan inovasi di industri telekomunikasi dalam negeri. Ada tiga hal penting yang bisa kita renungkan dari masuknya Starlink ke Indonesia. Yang pertama konektivitas adalah masalah bagi Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar, kehadiran Starlink sedikit banyak bisa ikut mengatasi masalah tersebut, tetapi ingat bahwa setiap Teknologi memiliki kelebihan dan kekurangan, yang masing-masing kedaulatan digital dan keamanan cyber tetap harus terjaga dari imbas kelebihan dan kekurangan tersebut . Yang kedua sebagai bangsa, kita harus memastikan bahwa setiap langkah yang diambil adalah untuk kepentingan terbaik masyarakat dan negara, dengan demikian di tengah gempuran teknologi dan informasi global kita bisa tetap berdaulat dan mampu mengambil manfaat maksimal dari setiap kemajuan yang muncul. Yang ketiga kedatangan Starlink harus dijadikan sebagai momentum industri lokal untuk berintrospeksi dan berinovasi, bukan melihatnya sekedar hanya sebagai ancaman. Ingatlah bahwa di era digital saat ini yang paling penting, bukanlah siapa yang paling kuat atau paling canggih, tapi Siapa yang paling adaptif dengan perubahan dan mampu mengambil peluang dari setiap dinamika yang ada.

Begitulah hikmah perjalanan Starlink masuk ke Indonesia semoga bermanfaat.

 

Ageng Bagja Priyadi,
Ketua Badan Pengurus WIlayah APJII Jabar